PRD 36 POSTER 2 | PARADANCE #36

PARADANCE #36

PRD 36 POSTER 2 | PARADANCE #36

Sejak 11 tahun lalu, format Paradance Festival Mini Seni Gerak dan Tari mungkin tidak banyak berubah. Kami sadar yang membuat inisiatif kecil ini senantiasa bergerak dinamis adalah para seniman dan karya yang hadir di setiap serinya.

Oleh karenanya, kami bersyukur dapat kembali menjadi ruang presentasi bagi karya lima seniman berikut:

  • I Wayan Eka Parta Muliana yang kerap dipanggil Yanik Parta di Banjar Batuaji tahun 2005, Batubulan Kangin, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah kejuruan di SMK Negeri 3 Sukawati (Kokar), Gianyar, ia melanjutkan studi di Institut Seni Indonesia Bali (ISI Bali). Dalam proses pendidikannya, Yanik berfokus pada pengembangan diri sebagai penari dan koreografer yang mengintegrasikan unsur budaya, tradisi ke dalam karya-karyanya. Yanik aktif berpartisipasi dalam berbagai pertunjukan dan festival seni. Salah satu karyanya “Dari Serpihan Patung Tak Kunjung Selesai” pernah dipresentasikan dalam platform Tidak Sekedar Tari #88. Saat ini, Yanik terus mengembangkan pendekatannya dalam seni tari, baik secara teknis maupun konseptual. Ia memandang tari sebagai bahasa universal yang mampu menyampaikan gagasan, emosi, dan kritik sosial secara mendalam dan bermakna.
  • Nanda Cahya Ardiyanto, lahir di Ponorogo tahun 1997. Meskipun berasal dari keluarga yang bukan berlatar belakang seni, lingkungan dan pergaulannya membuka mata dan menumbuhkan kecintaannya terhadap seni, khususnya seni tari. Dari situlah kesadaran dirinya tumbuh, bahwa tari bukan sekadar ekspresi tubuh, melainkan bahasa bagi hal-hal yang tidak selalu dapat diucapkan dengan kata-kata. Kini, Nanda menjalani dua peran yang saling melengkapi: sebagai seorang guru dan juga seniman. Di satu sisi, ia mendidik dan membimbing generasi muda, dan di sisi lain tetap aktif berkarya sebagai penari dan koreografer. Baginya, mengajar dan menari bukanlah dua dunia yang terpisah, keduanya adalah bagian dari perjalanan hidup dalam merawat, membagikan, dan menghidupkan semangat berkesenian di tengah masyarakat. Sudah ada belasan karya yang diciptakannya, dan Bedhaya Ponorogo adalah salah satu karya terbarunya yang dipentaskan perdana dalam Laku Dance Festival 2025 di Ponorogo.
  • Dedy Satya Amijaya, lahir di Ponorogo Jawa Timur, mengawali karir berkesenian sebagai penari di komunitas seni Reyog Ponorogo sejak Sekolah Dasar. Hingga selepas SMA melanjutkan kuliah di ISI Surakarta hsampai menyelesaikan program master pada thn 2010. Kemudian hijrah ke Jakarta dg bergabung pada project drama musikal Onrop std. Joko Anwar, selesai kontrak dg Onrop, lanjut bergabung dg Deddy Luthan Dance Company, dan belajar pada Ibu Elly D Luthan, juga sebagai asisten dosen Alm. Bpk Deddy Luthan di IKJ. Kemudian thn 2013 kembali ke kampung Halaman di Ponorogo. Dan sejak saat itu bersama kawan kawan mendirikan sebuah komunitas seni bernama Padepokan Tari Langen Kusuma, sebuah organisasi yg bergerak di bidang seni dan budaya, terutama tari. Pada 2016 mendapat program Pegiat Budaya berupa Short course di AUT New Zealand. Juga pada 2015 pernah mendapat dupport dari Australian Art Council untuk memberikan workshop di beberapa kota di Australia. Dan hingga sekarang aktif sebagai Koregrafer dan direktur program pada Padepokan Tari Langen Kusuma. Ponorogo.
  • Gandez Sholihah(b. 1993) menyukai fesyen sejak kecil, ketika remaja sudah membuat sendiri aksesoris-aksesoris yang dia mau. Di tahun 2012, Gandez merantau ke Jogja untuk melanjutkan pendidikan S1 Seni Teater di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Dunia teater membukakan pintu eksplorasi yang semakin menarik, Gandez bermain-main dengan banyak tema dan cerita yang diolah dalam bentuk kostum dan aksesoris pementasan. Di luar dunia panggung, Gandez masih bermain-main dengan membuat aksesoris yang dia mau menggunakan apa saja yang menarik yang ditemuinya di keseharian, seperti bahan alam dan bahan-bahan yang mungkin saja orang lain tidak akan terfikir untuk memakainya; seperti batu krikil, ranting pohon, kulit jagung, kawat besi, mur baut, dan masih banyak lagi. Yang kemudian diunggah ke sosial media pribadinya dengan caption #ApaAjaBisaJadiFesyen.
  • Zahwa Bakhita Salsabila (Ica) adalah mahasiswi jurusan seni tari di Insitut Seni Indonesia, Yogyakarta. Icha berasal dari Medan, kelahiran Pekanbaru berdarah Minang. Belajar tari sejak duduk di bangku SMP mendorongnya untuk merantau ke luar dari kampung halamannya. Dari perjalanan itulah ia mengilhami bahwa seni adalah medium komunikasi penting apabila kata-kata sudah tidak lagi mampu mendeskripsikan sesuatu. Berkesenian juga memberikan ruang baginya untuk berdialog tentang identitas, mengolah rasa, dan mewujudkannya dalam ekspresi seni. Karya-karya Icha pernah dipentaskan dalam Spirit Danau Toba (2024) dan SIPA (2024).

Mari bantu kami memfasilitasi para seniman ini dengan hadir dan membersamai presentasi karya mereka dalam Paradance #36:

📅 Minggu, 28 September 2025
📍 Balai Budaya Minomartani, Sleman, Yogyakarta
👉 Google Map: https://bit.ly/LOKASIPRD
🕖 19.45 WIB – selesai

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Silakan langsung hadir ke lokasi.

✨ Demi kenyamanan bersama, disarankan menggunakan transportasi umum, ojek online, atau kendaraan roda dua karena ketersediaan ruang parkir terbatas.

📞 Info lebih lanjut: +62 823 2342 7749

Baca juga...

Artikel Populer