
Paradance Festival Mini Seni Gerak dan Tari merupakan ruang untuk mencobakan gagasan dan praktik artistik para seniman yang sedang dalam proses, bukan pertunjukan final. Kami berharap dapat mempertemukan para seniman ini dengan teman-teman yang memungkinkan karya ini terus bergerak dan bertumbuh ke depannya. Kehadiran teman-teman di ruang ini adalah energi yang tidak ternilai harganya.
Oleh karenanya, kami mengundang kalian untuk hadir dalam Paradance#37, pada:
Hari/Tanggal: Minggu, 31 Mei 2026
Pukul: 19.45 WIB – selesai
Tempat: Balai Budaya Minomartani, Ngaglik, Sleman, D.I.Yogyakarta
HTM: GRATIS! Langsung datang ke lokasi.
Jika membutuhkan informasi lain atau aksesibilitas untuk kebutuhan khusus, silahkan menghubungi nomor: +6282323427749
PROFIL SENIMAN DAN KARYA
ICHA FIKRI
Icha Fikri Kurniawan merupakan seorang koreografer yang lahir dan tumbuh di Yogyakarta. Dan sekarang dirinya sedang menempuh pendidikan perguruan tinggi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Fikri mulai merintis perjalanan seni tari sejak memasuki SMKI Yogyakarta pada tahun 2019, bergabung di Sanggar Siswo Among Beksa untuk membentuk identitas ketubuhan tradisinya, dan ikut belajar di ruang kontemporer bersama Bimo Dance Theatre dan Sudi Dance. Selama 7 tahun berkiprah di dunia seni tari, Fikri telah mengikuti beberapa acara festival tari maupun workshop yang di kirim institusi ke Malaysia (2024,2025) dan Thailand (2024).
TUBUH TUMBUH: Merentang Kinestetik Di Balik Kerapuhan
Penciptaan karya tari ini berangkat dari pendekatan otobiografi ; perjalanan pengkarya sebagai penari klasik gaya Yogyakarta yang berkelindan dengan riwayat patah tulang kaki akibat kecelakaan. Pada tahun 2019, pertemuan tubuh pengkarya dengan tari klasik bermula dari sebuah ketidaksengajaan-sebagai alternatif untuk pemulihan.Namun, selama tujuh tahun berkecimpung di ruang tradisi, pengalaman tersebut ternyata menciptakan dialektika yang kompleks pada kaki kanannya. Bagaimana pengalaman rasa sakit pada tubuh yang tidak lagi “normal” mencoba berhadapan dengan sistem estetika yang mapan, merupakan proses tempaan yang panjang. Sebuah momen untuk disadari dan dimaknai ulang: bahwa laku proses adalah bentuk adaptasi, negosiasi, bahkan evolusi dalam upaya melawan keterbatasan biologisnya. Melalui pengalaman laku proses tersebut, yang kemudian pengkarya jadikan media untuk membuka wacana inklusivitas terhadap tubuh-tubuh yang serupa untuk berani melawan suatu keterbatasan.
CLAIRINE FAIZA
Clairine Faiza Saharani Putri Kusumawardhani adalah penari dan koreografer kelahiran Surabaya yang tumbuh di Tulungagung. Lulusan terbaik ISI Surakarta 2024. Berasal dari keluarga non-seni, ia memaknai proses belajar sebagai pengalaman bertahap melalui ketekunan, repetisi, dan keterlibatan tubuh. Terlibat dalam berbagai panggung seperti ASEAN Summit, G20 Bali, ASEAN Para Games, Paralimpiade Nasional, World Water Forum, SIPA Festival dan Istana Merdeka, aktif dalam karya kontemporer dan tradisi. Sejak 2021 mencipta karya, Incontrare, Dhodhog Amupus, Celah, Detak Hati, Caping Ilir, Prawiro Tani, Ngrumat Roso Asih, Woh Laku, Menoleh ke Dalam & Jejak Tak Utuh. Serta terpilih dalam kurasi koreografer Laku Dance Festival 2025.
Ia juga fasilitator workshop, founder Mardhogta Event Management, dan ketua Bala Kuda Tulungagung. Secara artistik, ia memandang tubuh sebagai arsip hidup yang menekankan proses, pengalaman, dan kesadaran dalam tari.
N-YOH
N-YOH adalah karya performatif berbasis praktik yang berangkat dari dua makna: “nyoh” (memberi) dan “yoh/ayuh” (ajakan pada diri). Belajar dipahami sebagai keputusan sadar untuk masuk dan bertahan dalam proses melalui tindakan memberi waktu, tenaga, kesabaran, dan penerimaan atas kegagalan. Dalam praktik Reog Kendang, pengetahuan hadir sebagai pengalaman embodied, dengan tubuh sebagai medium dan arsip hidup. Karya ini merespons kecenderungan latihan instan dengan menempatkan persiapan, repetisi, kegagalan, dan perbedaan metode sebagai materi utama. Menggabungkan site-specific, performative action, partisipasi penonton, dan koreografi, ruang menjadi bagian dramaturgi. Penonton tidak pasif, tetapi mengalami situasi belajar yang ambigu. Dhodhog diposisikan sebagai medium belajar, sementara bunyi internal, keheningan, dan ketidaksempurnaan dirayakan sebagai kejujuran proses. N-YOH menjadi ruang refleksi kolektif atas pengalaman belajar.
YANA ENDRAYANTO
Yana Endrayanto adalah seniman tari, koreografer, dan performer interdisipliner berbasis di Bandung, Indonesia. Praktiknya mengeksplorasi relasi tubuh, memori, dan teknologi melalui koreografi, sistem digital, kecerdasan buatan (AI), serta media visual imersif dalam seni pertunjukan kontemporer. Ia menyelesaikan Magister Pendidikan Seni di Universitas Pendidikan Indonesia, setelah sebelumnya menempuh Sarjana Pendidikan Seni Tari, dengan latar belakang Teknik Komputer dan Jaringan. Dalam penciptaannya, Yana merancang teknologi sebagai sistem yang memengaruhi cara tubuh dibaca dan dimaknai, serta aktif dalam penelitian pendidikan seni. Salah satu karya utamanya, Garbha, adalah pertunjukan tari multimedia berbasis hologram yang mengeksplorasi tubuh sebagai arsip hidup, dan telah dipresentasikan di berbagai forum nasional dan internasional seperti BIPAF, BISFF, International Mask Festival, Aku dan Bambu, W.I.P India, ICADE Conference UPI, serta forum di Istanbul, Turki dll.
WHAT YOU SEEK MOVES YOU-Jejak yang Dipilih
Karya ini berangkat dari gagasan bahwa tubuh tidak pernah bergerak netral, melainkan dibentuk oleh memori, perhatian, dan kebiasaan yang berulang. Tubuh dipahami sebagai arsip hidup, namun ingatan hadir secara selektif—disaring dan diperkuat melalui proses berkelanjutan. Gagasan ini selaras dengan konsep Reticular Activating System (RAS) dalam The Answer, yang menjelaskan bahwa realitas diproses berdasarkan fokus, sehingga sebagian informasi diperkuat sementara lainnya diabaikan. Dalam karya ini, sistem berbasis AI merepresentasikan mekanisme tersebut. Terdiri dari 12 koreografi yang dikembangkan dan disimpan dalam sistem coding, gerak tubuh diterjemahkan sebagai data yang tidak diperlakukan setara. Sistem secara selektif merespons, memperkuat, atau mengabaikan gerakan tertentu. Relasi ini membentuk siklus antara tubuh, memori, dan sistem, sekaligus mempertanyakan batas antara pilihan sadar dan gerak yang dibentuk oleh ingatan terseleksi.
IMELDA DHEA
Imelda Dhea Invioleta merupakan seniman tari muda asal Yogyakarta yang telah menekuni dunia tari sejak usia dini. Saat ini, Imelda sedang menempuh pendidikan jenjang Sarjana (S1) di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Program Studi Seni Tari. Ketekunannya dalam bidang seni tari membawa Imelda tampil hingga ke tingkat Internasional. Pengalaman internasionalnya meliputi partisipasi sebagai delegasi Indonesia dalam FOLK DANCE FESTIVAL TARI’25 ASWARA, MALAYSIA, serta tampil di acara LAYAR SENI BITARA di UNIVERSITI PENDIDIKAN SULTAN IDRIS, MALAYSIA pada tahun 2024. Selain itu, ia pernah meraih juara 2 dalam kejuaraan Dancesport IODI Kota Yogyakarta pada tahun 2020. Tidak hanya menari, Imelda juga aktif sebagai pengajar dan koreografer dengan menggarap berbagai karya di Sanggar Artha Dance.
Conexion
Konsep dalam karya ini menggunakan teori Latin dance, yaitu lead and follow, sebagai dasar penciptaan sekaligus media refleksi diri. Dalam konsep tersebut, lead berperan dalam memberikan arah gerak, sedangkan follow merespons arah tersebut, namun keduanya memiliki kemungkinan untuk saling bertukar peran. Konsep ini kemudian dikaitkan dengan pengalaman pribadi penata. Dalam kenyataannya, penata menyadari bahwa dirinya lebih sering berada pada posisi sebagai follow dan belum memiliki kesadaran penuh bahwa dirinya juga dapat menjadi lead bagi dirinya sendiri. Melalui karya ini, penata berupaya membangun kesadaran tersebut sebagai bagian dari proses menemukan jati diri dan menentukan arah perjalanan dirinya secara mandiri serta menyampaikan pesan tentang pentingnya memiliki jiwa kepemimpinan (leadership) dalam diri setiap orang.
GANDHI LUFI
Gandhi Lufi Faras Alya Ayu Putri yang biasa dikenal Gandhi. Lahir di Banyuwangi, 5 Januari 2002. Mengenal dunia tari sejak usia 5 tahun karena menyukai kesenian Janger di Banyuwangi, dengan kemauan sendiri Gandhi belajar dasar tradisi tari Banyuwangi secara otodidak. Dengan dukungan nenek, Gandhi berhasil belajar di Sanggar Seni Mlati Rinonce. Sejak SD sampai SMA Gandhi sudah sering mengikuti berbagai perlombaan, aktif dalam kegiatan organisasi dan event tahunan di Banyuwangi, seperti Sewu Gandrung. Tahun 2020. Gandhi menjadi mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan lulus pada tahun 2025 dengan Tugas Akhir Penciptaan Tari. Saat ini Gandhi aktif menjadi koreografer, penari dan pengajar tari di salah satu komunitas dan yayasan di wilayah Yogyakarta. Selain itu, Gandhi juga mempelajari Latin Dance, Modern Dance, Fire Dance dan tari Kontemporer.Kecintaan Gandhi pada tari menguatkan tekad untuk terus menari dan mengenalkan tariBanyuwangi hingga ke Internasional.
Pilihian
Pilihian berbicara tentang makna dan nilai filosofis dari ritual adat Seblang Olehsari dalam prosesi ritual adat Seblang Olehsari. Prosesi ritual adat dengan tokoh Seblang Olehsari merupakan seorang yang terpilih melalui perantara roh leluhur atau supranatural yang dipercaya membawa keberkahan pada desanya atau sebagai cara menolak hal hal buruk yang terjadi. Penata memiliki ide berdasarkan cerita prosesi ritual adat Seblang Olehsari dengan lebih fokus tokoh Seblang Olehsari dan beberapa bagian pada proses ritual adat Seblang Olehsari. Karya tari Pilihian memiliki landasan gerak yaitu menggunakan motif gerak gerak Sapon, Ukelbuwang, Cèlèng Magak dan Candra Dèwi dan pengembangan gerak tradisi Banyuwangi. Adanya gerak eksplorasi saat mengalami kejiman atau trance merupakan salah satu gerak yang dikembangkan.